KEPOLISIAN

IM : Teman Masa Kecil Ungkap Perubahan Sikap Penyerang Polsek Wonokromo

Polri.go.id – Polisi telah menangkap penyerang kantor Polsek Wonokromo. Berdasarkan identifikasi kepolisian, para teroris yang berhasil ditangkap ini memiliki beberapa perilaku identik.

Mereka seorang yang pendiam sejak semula atau seorang yang ceria, tetapi tiba-tiba berubah pendiam. Imam Musthofa pun demikian, di benak teman-teman masa kecilnya, yang terkenang dari pemuda 31 tahun itu adalah sosok pendiam yang religius.

Seorang teman masa kecil Imam ingat betul, bila pulang sekolah, karibnya itu memilih pulang sendiri dan jarang terlihat pulang bersama teman-teman. Imam juga anak rumahan yang tak terlalu suka bermain.

“Tapi sikapnya baik, cuma irit bicara, oh ya dia juga religius,” kata Maktum, nama teman kecil Imam, warga Desa Bilaporah, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Desa ini bertetangga dengan Desa Talaga, tempat tinggal Imam Musthofa, di Kecamatan Ganding.

Maka, pada Sabtu malam, 17 Agustus 2019 lalu, Maktum terkaget-kaget, ketika membaca berita di media sosial tentang penyerangan Kantor Polsek Wonokromo Surabaya. Pelakunya disebut asal Desa Talaga bernama Imam Musthofa. Dia tak mengira bocah yang pendiam bisa berbuat nekat, terlebih peristiwa itu dikaitkan dengan terorisme.

“Gak nanggung-nanggung, bukan kriminal biasa, langsung terorisme, nyerang Polsek Wonokromo,” ungkap dia.

Lahir 1988, Imam anak desa yang beruntung, di Dusun Karang Jati yang tandus, pendidikannya terbilang tinggi. Ia menamatkan sekolah dasar dan menengah di Bilaporah. Untuk jenjang Sekolah Menengah Atas ia tamatkan di sebuah pondok pesantren besar di Sumenep.

Imam tak kuliah. Dia pulang kampung selepas nyantri. FZ, gadis dan kembang Desa Talaga, dipersunting Imam pada 2014. Keluarga ini merantau ke Surabaya setelah anak pertama lahir setahun kemudian. “Kabarnya dia usaha kerupuk gitu,” ujar Maktum.

Lama merantau, Imam dan istrinya langsung jadi omongan warga begitu pulang. Penampilan mereka berubah. Imam bercelana cingkrang dan si istri menutup wajahnya dengan cadar.

Sebuah kamar kos di daerah Sidosermo Gang I Surabaya ditempati keluarga Imam sejak 2015. Dia mencari nafkah dengan menjajakan makaroni renteng ke warung-warung. Dua tahun lalu, anaknya masuk ke MI Baiturrahman tak jauh dari tempat tinggalnya.

Imam juga kerap ikut pengajian di masjid sekolah itu. Sejak itu, tak hanya penampilan yang berubah. Keluarga ini juga menjadi tertutup, jarang berinteraksi dengan warga.

Related posts

Ikut Dilibatkan soal SKT, Polisi Masih Kaji Aktivitas FPI

admin

Polri Telusuri Penyebaran Obat Paten Palsu di Semarang secara Online

admin

Polisi : Sebelum Bakar Korban di Gubuk, Pelaku Bacok Nenek hingga Tidak Bergerak

osi S

Leave a Comment

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WeCreativez WhatsApp Support
POLRI.ORG siap membantu anda, apabila ingin membuat laporan/artikel atau beriklan,
👋 POLRI.ORG siap membantu anda