menurut Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abdullah Hehamahua korupsi sudah menjadi peluang bisnis yang menggiurkan

  
Hal itulah mengapa korupsi masih saja marak terjadi. “Kalau dia korupsi Rp50 miliar,dia sudah hitung berapa untungnya. Dibagi-bagi ke jaksa Rp10 miliar, hakim Rp10 miliar, polisi Rp10 miliar. Disimpan sekian. Dia hitung-hitung masih ada untung. Akhirnya dia korupsi,” kata Abdullah di Palu kemarin. Yang menarik, kata dia, mereka yang terlibat korupsi tiba-tiba menjadi orang yang saleh melalui berbagai kegiatan sosial dengan menyumbang di mana-mana, padahal sumber dana tersebut dari hasil korupsi.

 

 

Dia menegaskan, dampak buruk dari korupsi sangat berbahaya yang bisa mendera semua sektor. Mulai kemiskinan, utang luar negeri yang tinggi, hingga kerusakan hutan. Dari Jakarta, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengatakan saat ini demokrasi di Indonesia semakin jauh dari semangat Pancasila sebagai ideologi negara, sehingga menyebabkan Indonesia “becek” dengan korupsi, penegakan hukum yang lemah, dan hedonisme.

“Saat ini demokrasi yang berkembang cenderung memberi ruang terhadap kaum oligarki. Bahkan, demokrasi kita sudah mengarah pada poliarkis,” kata Mahfud. Namun demikian, dirinya tetap optimistis Indonesia akan bisa lebih baik ke depan dengan modal sosial yang dimiliki jika didukung dengan penegakan hukum yang tegas dan leadershipyang kuat.

About the Author

Fatal error: Uncaught Exception: 12: REST API is deprecated for versions v2.1 and higher (12) thrown in /home/hostingh/polri.org/wp-content/plugins/seo-facebook-comments/facebook/base_facebook.php on line 1273