WISATA

Wisata Bak Negeri Dongeng di Seribu Batu Songgo Langit

Banyak yang bilang, datang ke Seribu Batu Songgo Langit di kawasan Hutan Pinus Mangunan, Bantul, Yogyakarta, bak memasuki negeri dongeng. Tidak salah memang karena destinasi itu mirip sekali dengan negeri dongeng yang sering digambarkan dalam film-film fiksi fantasi.

Berjalan sebentar saja dari area pintu masuk, Anda akan mendapati bangunan Rumah Hobbit, lengkap dengan pagar dan kotak surat bertuliskan Hobbiton. Dan tak jauh dari area Rumah Hobbit, Anda bisa bersantai di dekat Taman Toempah. Di sana ada bangku kayu, di mana Anda bisa duduk sambil berfoto dengan latar taman penuh bunga berwarna-warni dan miniatur rumah.

Jika punya cukup stamina, cobalah menanjak ke Bukit Songgo Langit yang bisa ditempuh sekitar 20 menit berjalan kaki. Tapi, jangan terburu-buru karena di setiap titik, Anda akan menemukan spot unik yang sayang dilewatkan untuk berfoto.

Rumah Seribu Kayu Negeri Dongeng, demikian spot ini dinamakan. Di sana ada rumah-rumah mini yang dibuat dari kayu dan ranting pohon dengan bentuk segitiga.

Tergelitik dengan uniknya destinasi ini ditata, VIVA pun mendatangi Ketua Koperasi Notowono, Purwoharsono, yang membidani lahirnya Songgo Langit. Ditemani secangkir teh hangat, Purwoharsono mengisahkan bagaimana Songgo Langit awalnya merupakan destinasi gagal hingga meninggalkan utang puluhan juta rupiah. Bahkan, banyak pengunjung yang berputar arah karena menganggap Songgo Langit belum layak dikunjungi sebagai tempat wisata.

“Kami berpikir, masyarakat saat itu dalam keadaan bertahan hidup, sebenarnya sudah kritis, hampir bubar. Setelah kami masuk, kondisi itu saya buat menjadi tema,” ujar Purwoharsono di kantor Koperasi Notowono, Bantul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Purwoharsono lantas memiliki ide untuk membuat titik-titik dengan tema tertentu. Ia pun teringat masa nenek moyang, di mana dalam kondisi bertahan hidup, mereka menggunakan kukusan untuk memasak. Bentuk kukusan itu ia terjemahkan ke dalam bangunan rumah yang kemudian diberi tema ‘Rumah Hobbit Yogyakarta’.

Kukusan yang berbentuk segitiga, diartikan Purwoharsono sebagai hubungan antara manusia dan alam dengan Tuhan. Dari sana, ia mulai menciptakan konsep lainnya melalui karya-karya tematik.

Singkatnya, lokasi Songgo Langit yang awalnya berupa hutan belantara dan menjadi tempat pembuangan sampah bertransformasi menjadi destinasi Instagramable yang populer.

“Saya beri tema spesifik, negeri dongeng. Makanya saya tambah jadi Seribu Batu Batu Songgo Langit,” kata Purwoharsono.

Bukan Sembarang Negeri Dongeng

Nama Seribu Batu pun tak sembarangan dipilih Purwoharsono. Dalam bahasa Jawa, Seribu Batu adalah ‘sewu watu’, yang merupakan kependekan dari ‘sejatine wong urip wajib tumindak utomo.’ Artinya, sebenar-benarnya orang hidup harus berperilaku baik.

Itulah yang dipegang teguh oleh Purwoharsono dan puluhan warga yang berswadaya membangun Songgo Langit. Tak diduga, Songgo Langit dengan cepat bangkit. Buktinya, kurang dari dua bulan penataan ulang, destinasi baru itu sudah bisa dibuka. Pengunjung pun mulai berdatangan.

Selain nilai filosofis, Purwoharsono juga sadar akan peran teknologi digital. Makanya, ia menciptakan spot-spot tematik dengan konten singkat yang mudah dipahami. Tentunya, dengan desain unik agar bisa menjadi latar berswafoto.

Awalnya, warga yang menginisiasi dibuatnya destinasi ini hanya membuat jembatan-jembatan panjang. Tak ada daya tarik lain yang ditawarkan selain permainan flying fox. Pengunjung yang datang pun tak puas karena ketika berfoto tidak ada latar yang menawan.

“Kalau disuguhkan dalam konten pendek, mudah dipahami, jadi magnetik, orang akan penasaran, apa sih?” kata Purwoharsono.

Prediksinya benar, kini Seribu Batu Songgo Langit menjadi salah satu tujuan yang diincar wisatawan milenial ketika ke Yogyakarta. Selain mendapat pemandangan asri hutan pinus, mereka juga bisa puas berswafoto dengan latar beragam.

Apalagi, memasuki destinasi wisata ini tak mahal. Tiketnya hanya dihargai Rp3.000 saja, itu pun sudah beserta asuransi. Untuk anak-anak yang ingin bermain flying fox, tarifnya sekitar Rp15 ribu.

Related posts

Taman Bunga Ala Jepang Hadir di Lombok

admin

5 Alasan Mengapa Traveling Bikin Karier Makin Sukses

admin

Jadi Perhatian, Pembuatan Patung Bambu Dewi Sri Habiskan Rp25 Juta

admin

Leave a Comment

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
WeCreativez WhatsApp Support
POLRI.ORG siap membantu anda, apabila ingin membuat laporan/artikel atau beriklan,
👋 POLRI.ORG siap membantu anda